Quiet in Trouble (Tenang Dalam Kesesakan)

"Then these men came as a group and found Daniel praying and asking favor from his God." – Daniel 6:11 (NLT)

Sebagai orang Kristen, apa yang akan Anda lakukan ketika tiba-tiba terjadi suatu masalah yang sungguh pelik? Hal tersebut sungguh sangat pelik sehingga menguras banyak uang, waktu, tenaga, dan emosi. Jika hal semacam itu terjadi, apa yang Anda lakukan?

Kebanyakan dari kita pasti akan mulai melakukan hal-hal rohani lebih dari biasanya. Berdoa lebih sering, menyanyi lagu rohani, atau bahkan mulai berpuasa. Semua hal tersebut kita lakukan dengan harapan masalah yang kita hadapi cepat berlalu dan selesai.

Tetapi hal yang berbeda justru dilakukan oleh Daniel. Saat itu, ia baru saja mengetahui bahwa semua orang di Babel tidak diperbolehkan untuk berdoa kepada siapapun atau apapun selain kepada Raja Darius. Tentu saja perintah ini bertentangan dengan keyakinan dan iman Daniel sebagai orang Israel yang hanya berdoa kepada Allah saja. Namun respon Daniel tidaklah “berlebihan”. Tidak panik, itulah gambaran umum dari sikap yang ia ambil ketika mendengar kabar itu. Bahkan disebutkan, ia melakukan hal yang biasa dilakukan setiap harinya. Tidak dikurangi, apalagi dilebihkan.

Mengapa bisa demikan? Di saat genting seperti itu, di mana nyawa yang jadi taruhannya, ia bisa tetap tenang melakukan hal yang biasa dilakukan, meskipun pada kenyataannya hal itu juga yang bisa menyebabkan ia kehilangan nyawanya. Jawabannya adalah iman. Ya, iman yang membuatnya tetap tenang. Iman yang dimaksud bukanlah kepercayaan bahwa setiap doa kita pasti dijawab. Iman yang dimaksud adalah keyakinan bahwa apapun keadaannya Tuhan tetap beserta kita, dan apapun keadaannya kepercayaanmu tidak akan bergeser.

Seperti yang kita ketahui, bahwa pada akhirnya Daniel tetap dimasukkan ke dalam goa singa. Allah melakukan mujizatnya bukan dengan menghindarkan Daniel dari goa singa, melainkan dengan menutup mulut –mulut singa tersebut. Terkadang kita berdoa supaya tidak berhadapan dengan masalah, tetapi yang Tuhan lakukan adalah justru menghadapkan kita dengan masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguji kemurnian iman kita. Akankah kita berpaling atau tetap percaya kepada-Nya.

– Ryan DS